Apakah
itu kepribadian yang sehat? Apakah sifat-sifat orang yang memiliki kepribadian
sehat? Bagaimanakah tingkah laku, pikiran, serta perasaan orang ini? Dapatkah
Anda atau saya menjadi pribadi yang sehat?
Pertanyaan-pertanyaan
ini terus-menerus ditanyakan bukan hanya oleh ahli-ahli psikologi, tetapi juga
oleh berjuta-juta orang lain. Dapat diramalkan, tidak jauh di balik
pertanyaan-pertanyaan ini, telah muncul bermacam-macam jawaban. Beberapa
jawaban terlalu sederhana dan dangkal (dan tidak berguna) sedangkan
jawaban-jawaban lainnya memiliki nilai potensial dalam membantu kita untuk
memahami diri kita dengan lebih baik.
Sejumlah
besar orang Amerika mencari-cari dalam kelompok, menyelidiki, dan menyingkap
diri batiniah (dan badan) mereka dalam sensitivity,
T-groups, dan sejumlah bentuk encounter
therapy lainnya. Pokok dari gerakan yang sangat popular ini ialah menemukan
serta merumuskan suatu kepribadian yang lebih sehat. Fokusnya ialah ke arah apa
seseorang dapat menjadi, bukan ke arah apa yang telah terjadi atau pada saat
ini.
“Ahli-ahli
psikologi pertumbuhan” ini (kebanyakan di antara mereka memandang diri mereka
sebagai ahli-ahli psikologi humanistic)
telah memiliki suatu pandangan yang segar terhadap kodrat manusia. Ahli-ahli
psikologi humanistic semakin kritis terhadap tradisi-tradisi ini, karena mereka
percaya bahwa behaviorisme dan psikoanalisis memberikan pandangan-pandangan
terbatas tentang kodrat manusia, mengabaikan puncak-puncak yang akan didaki
oleh orang-orang yang memiliki potensi
Teori
behaviorisme maupun psikoanalisis tidak berbicara mengenai potensi kita untuk
bertumbuh, keinginan kita untuk menjadi lebih baik atau lebih banyak daripada
yang ada. Kita dilihat oleh para behavioris sebagai orang-orang yang memberikan
respon secara pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar, dan oleh ahli-ahli
psikoanalisis sebagai korban dari keuatan-kekuatan biologis dan konflik-konflik
masa kanak-kanak.
Pembahasan
Kriteria
kepribadian sehat menurut sudut pandang Teori Psikoanalisis, Behavioristik, dan
Humanistik, serta Tokoh Allport, Rogers, Maslow, dan Fromm.
A. Teori Psikoanalisi.
Kriteria
psikoanalisis memperhatikan dua hal untuk dipakai sebagai patokan dari
kesehatan jiwa, yaitu tingkat kesadaran dan jalannya perkembangan psikoseksual.
Makin tinggi tingkat kesadaran seseorang, makin baik atau sehat jiwanya. Sebaliknya
jika seseorang terlalu banyak dikuasai oleh alam tak sadar, maka berarti Ia
kurang sehat jiwanya.
Kriteria
behavioristik menggambarkan kepribadian yang sehat dengan pribadi atau individu
yang mampu menerima respon atau stimulus-stimulus yang di dapat dari
lingkungan.
Kriteria
humanistik dapat dilihat dari cara seseorang mengaktualisasikan dirinya, serta
mampu berpikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat
biologisnya.
D. Tokoh Allport, Rogers, Fromm, dan Maslow.
|
Model-model Kepribadian
Sehat
|
|||||
|
Sifat
|
Allport
|
Rogers
|
Fromm
|
Maslow
|
|
|
Dorongan
|
Intensi-intensi
kepada masa depan
|
Aktualisasi
diri
|
Produktivitas
|
Aktualisasi
diri
|
|
|
Fokus pada kesadaran atau ketidaksadaran
|
Kesadaran
|
Kesadaran
|
Kesadaran
|
Kesadaran
|
|
|
Tekanan pada masa lampau
|
Tidak
|
Tidak
|
Ya
|
Tidak
|
|
|
Tekanan pada masa sekarang
|
Ya
|
Ya
|
Ya
|
Ya
|
|
|
Tekanan pada masa yang akan dating
|
Ya
|
Tidak
|
(?)
|
(?)
|
|
|
Tekanan pada peningkatan atau reduksi tegangan
|
Peningkatan
|
Peningkatan
|
(?)
|
Peningkatan
|
|
|
Peranan pekerjaan dan tujuan-tujuan
|
Sangat
penting
|
Sama
sekali tidak
|
(?)
|
Sangat
penting
|
|
|
Sifat persepsi
|
Objektif
|
Subjektif
|
Objektif
|
Objektif
|
|
|
Tanggung jawab terhadap orang lain
|
Ya
|
(?)
|
Ya
|
Ya
|
|
*(?)
menunjukkan bahwa ahli teori yang bersangkutan itu sendiri tidak menjelaskan
hal tersebut.
Daftar Pustaka
Schultz, D. 1991. Psikologi
Pertumbuhan. Yogyakarta: PT. Kanisius.
Slamet I.S., Suprapti, dan Sumarno
Markam. 2003. Psikologi Klinis.
Jakarta: Universitas Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar