بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pemalugu/koleksi-tulisan-arab_552bf2896ea834326f8b45b8
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pemalugu/koleksi-tulisan-arab_552bf2896ea834326f8b45b8
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pemalugu/koleksi-tulisan-arab_552bf2896ea834326f8b45b8
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pemalugu/koleksi-tulisan-arab_552bf2896ea834326f8b45b8
Latar Belakang
Kebanyakan
dari kita pernah mengalami saat-saat dimana kita merasa cemas, tertekan, marah,
gugup, dan sebagainya. Dalam menghadapi hidup yang kian kompleks, manusia
terkadang tidak dapat atau sanggup menghadapinya dengan mudah. Adalah suatu hal
yang muskil jikalau dalam keseluruhan hidupnya, manusia tidak pernah mengalami
saat-saat sulit seperti itu,apalagi di era perubahan social dan tekhnologi yang
kini berkembang semakin cepat. Akan tetapi, kebanyakan orang bias jadi tidak
benar-benar “putus asa”, karena mereka dapat mengatasi masalah dan melanjutkan
hidup dengan semestinya.
Lalu,
apakah itu kepribadian yang sehat atau normal? Apakah sifat-sifat orang yang
memiliki kepribadian sehat? Bagaimanakah tingkah laku, pikiran, serta perasaan
orang ini? Dapatkah Anda atau saya menjadi pribadi yang sehat? Serta, apa
definisi dari perilaku abnormal?
Pertanyaan-pertanyaan
ini terus-menerus ditanyakan bukan hanya oleh ahli-ahli psikologi, tetapi juga
oleh berjuta-juta orang lain. Dapat diramalkan, tidak jauh di balik
pertanyaan-pertanyaan ini, telah muncul bermacam-macam jawaban. Beberapa jawaban
terlalu sederhana dan dangkal (dan tidak berguna) sedangkan jawaban-jawaban
lainnya memiliki nilai potensial dalam membantu kita untuk memahami diri kita
dengan lebih baik.
Teori
A.
Konsep Normal
Manusia
yang sehat mental (normal) adalah manusia yang mampu menguasai segala factor dalam hidupnya.
Defenisi
sehat beberapa Tokoh Psikologi:
1. Allport (1920), manusia sehat adalah
manusia yang mencapai kematangan.
2. Fromm (1922), kepribadian sehat
adalah yang memiliki orientasi produktif.
3. Maslow, manusia sehat adalah manusia
yang mampu mengaktualisasikan dirinya dan mencapai kebahagiaan.
4. Horney, manusia sehat adalah yang
mampu mengalahkan kecemasan dan kebutuhan neurotiknya.
B. Konsep Abnormal
Perilaku abnormal (abnormal behavior) bagi para ahli
psikologi seringkali disebut dnegan gangguan perilaku (behavior disorder), atau ada juga yang menyebutnya lagi dengan mental illness (Morgan dkk., 1984).
Untuk mendefinisikan abnormalitas
tersebut, Atkinson dkk. (1992), mencoba membandingkan antara perilaku abnormal
dengan perilaku normal. Oleh karena itu, cara mendefinisikannya dapat dilakukan
dengan beberapa cara. Beberapa cara untuk mendefinisikan perilaku abnormal
antara lain adalah: penyimpangan dari norma statistic,
penyimpangan dari norma social,
perilaku maladaptive, dan kesusahan
pribadi.
Penyimpangan
dari norma statistic. Kata abnormal dapat berarti “di luar
normal”. Definisi abnormalitas didasarkan kepada penyimpangan kurve normal dalam statistic. pendefinisian ini barangkali menjadi lemah, karena bagi
orang yang cerdas atau sangat gembira akan dapat digolongkan sebagai abnormal.
Penyimpangan
dari norma social. Setiap masyarakat ternyata memiliki
patokan tertentu: untuk perilaku yang dapat diterima ataupun perilaku yang
menyimpang (abnormal). Perilaku yang dianggap normal oleh suatu masyarakat bias
dianggap abnormal oleh masyarakat lain. Misalnya, perilaku poliandri bagi
kebanyakan masyarakat di dunia dianggap sebagai abnormal, sementara bagi
masyarakat gurun di Nepal, dimana pria umumnya bekerja sehari-hari meninggalkan
istrinya, perilaku poliandri (satu wanita dengan banyak suami) dianggap
normal-normal saja. Jadi, baik perilaku normal maupun abnormal ternyata
berbeda-beda dari kebudayaan satu dengan kebudayaan lainnya.
Perilaku
maladaptive. Kriteria terpenting adalah bagaiman
perilaku tersebut berpengaruh pada pribadi seseorang dan/atau kelompok. Oleh karena
itu, perilaku abnormal kemudian disebut perilaku maladaptive (tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan), yang
memiliki dampak yang merugikan dan membahayakan orang lain atau masyarakat.
Kesusahan
diri. Criteria
keempat untuk menilai abnormalitas adalah dari sudut pandang subjektif
seseorang dan bukannya perilaku orang tersebut. Umumnya orang yang didiagnosis
menderita “sakit jiwa” mengalami penderitaan batin yang akut, selalu khawatir,
batinnya menderita, gelisah, tidak dapat tidur, nafsu makan hilang, mengalami
berbagai macam rasa sakit dan nyeri. Terkadang penderitaan batin hanyalah
merupakan gejala abnormalitas, dimana perilaku tampak normal-normal saja bagi
orang awam.
Dari keempat criteria diatas, maka tidak diperoleh jawaban yang memuaskan. Dalam
banyak hal, keempatnya harus dipertimbangkan bersama untuk menilai abnormalitas
seseorang.
Klasifikasi gangguan
Perilaku abnormal dapat digolongkan menjadi empat, yaitu:
1) Yang bersifat akut dan sementara,
yang disebabkan oleh peristiwa yang penuh dengan stress;
2) Yang bersifat kronis dan
selama-lamanya;
3) Yang disebabkan oleh penyakit atau
kerusakan pada system saraf;
4) Yang merupakan akibat dari
lingkungan social yang tidak menguntungkan dan/atau pengalaman belajar yang
keliru.
Analisis
Gio (nama samara) adalah seorang
siswa di salah satu Sekolah Dasar Negeri Kota Bekasi, Jawa Barat. Ia mengidap Learning Disability atau kesulitan dalam
proses belajar. Karena penyakitnya ini, Gio mengalami kesulitan dalam mencari
sekolah yang dapat membantunya. Kini usianya beranjak 16 tahun, dan Ia masih
mengunyam pendidikan di bangku kelas 6 SD Negeri Kota Bekasi, Jawa Barat. Ia sempat
berpindah-pindah sekolah karena di utamakan mencari sekolah yang mengadakan shadow teacher untuk Anak Berkebutuhan
Khusus seperti dirinya dalam membantu proses belajar mengajar.
Dalam pergaulan nya disekolah, Ia
lebih senang keluar kelas ada ataupun tidak ada guru, dan Ia sangat senang
dalam pelajaran olahraga khususnya bermain sepak bola. Guru disekolah Gio,
menilai hasil belajarnya (nilai raportnya) disetarakan dengan KKM sekolah
tersebut. Meskipun kenyatan nya, Gio tak dapat menguasai pelajaran yang diberi
Guru nya.
Awal mula Gio mengidap penyakit Learning Disability pada saat Ia berusia
2 tahun. Semasa Gio di dalam kandungan ibunya, ibunya mengidap penyakit campak
dan panas tinggi. Saat itu, orang tua disekitar lingkungan tempat tinggalnya
mempercayai bahwa penyakit yang di derita oleh ibu Gio sangat mempengaruhi
bayinya.
Ciri-ciri yang tampak pada Gio saat
usia pra-sekolah adalah:
Akademik
|
|
Membaca
|
·
Membaca
tidak lancar.
·
Menulis
kata terbalik, misalnya “mata” ditulis “tama”
·
Sering
membaca tidak teratur.
|
Menulis
|
·
Bentuk
huruf tidak teratur.
·
Kesulitan
menulis pada garis yang telah ditentukan.
·
Lambat
mengerjakan tugas.
·
Sulit
menyalin apa yang ditulis.
|
Matematika
|
·
Kesulitan
mengingat angka.
·
Sulit
menulis dalam kolom secara teratur.
·
Sangat
sulit memecahkan siak yang berbentuk cerita.
|
Saat usianya beranjak 7 tahun, Ia
mendatangi salah satu Psikolog dari Universitas Indonesia untuk mengetahui
perkembangan nya dalam mengikuti test, terapi, dan bimbingan sebelum kedua
orang tua Gio memutuskan untuk menyekolahkan nya.
Namun, patut diketahui karakteristik
peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Ormrod (2011) mengemukakan
karakteristik itu secara umum, yaitu:
1. Kesulitan mempertahankan perhatian.
2. Keterampilan membacasangat rendah.
3. Kesulitan dalam mengerjakan tugas
4. Kesulitan memahami diri dan memiliki
motivasi belajar yang rendah.
5. Keterampilan motorik yang kurang.
6. Keterampilan social yang kurang.
Strategi penyesuaian pembelajaran bagi siswa yang mengalami
kesulitan belajar:
1) Mengupayakan meminimalkan gangguan
bagi anak didik yang belajar.
Misalnya,
ruang kelas tertutup dengan jendela kaca dilapisi lapisan yang gelap agar
peserta didik tidak dapat melihat keluar kelas.
2) Mengorganisasikan materi
pembelajaran dengan baik dan menyajikan informasi baru yang sesuai dengan
kebutuhan peserta didik..
3) Menggunakan media yang menumbuhkan
minat peserta didik untuk belajar.
Misalnya,
guru yang sedang mengajarkan anak tentang penggunaan huruf-huruf menjadi kata
atau kalimat perlu menggunakan media yang merangsang penglihatan anak ˗˗
misalnya video, grafik, atau media visual lainnya.
4) Dalam menganalisis kesalahan anak
dalam membuat huruf, tuliskan secara benar dan secara bertahap memperbaikinya.
Misalnya,
kesalahan dalam menyambung kata menjadi kalimat, antara sambungan huruf menjadi
kata; sulit membedakan huruf a dan e, t dan r, n dan m, atau k dan h; terlebih
lagi menyambung kata menjadi kalimat.
5) Guru sebaiknya mengajarkan anak
tentang keterampilan dan strategi belajar.
Misalnya,
ajarkan mereka untuk mengingat, mengeja kata atau kalimat, menulis huruf dan
bentuk-bentuk lainnya.
6) Guru sebaiknya menyediakan alat
bantu bagi anak untuk belajar.
Misalnya,
anak diberi alat bantu seperti grafik agar anak dapat mengidentifikasi dan
menghubungkan konsep-konsep tertentu sebagai sebuah ide.
Daftar Pustaka
Riyanti,
B.P. & Hendro, P. 1998. Psikologi
Umum 2. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Schultz, D.
1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta:
PT. Kanisius.
Surna, I.
N. & Olga, D.P. 2014. Psikologi
Pendidikan 1. Jakarta: Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar