Disusun oleh:
Ø Chori Alifia W (12514369)
Ø Rekha Amalia Gusman (19514017)
Ø Suci Puji Yati (1A514479)
Ø
Suliana Tri Aulia Dienny (1A514506)
KELAS 1PA18
Fakultas Psikologi
Universitas Gunadarma
ATA 2014/2015
1.
PENDAHULUAN
Sebagai
pribadi, maupun kelompok atau suatu bangsa kita harus mampu memikirkan,
menciptakan cara-cara baru dengan cara yang kreatif, agar kita tidak hanyut
dalam dalam persaingan antar bangsa dan
negara dalam era globalisasi ini. Oleh karena itu, pengembangan kreativitas
sejak usia dini sangatlah penting.
Kreativitas
begitu bermakna dalam hidup dan kreativitas perlu di pupuk sejak dini dalam
diri peserta didik, karena :
·
Dengan berkreasi orang dapat
mewujudkan dirinya, karena perwujudan diri merupakan kebutuhan pokok pada
tingkat tertinggi dalam hidup manusia.
·
Berfikir kreatif sebagai kemampuan
untuk melihat bermacam suatu masalah merupakan bentuk pemikiran yang sampai
saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan.
·
Bersibuk diri secara kreatif tidak
hanya bermanfaat bagi diri sendiri tetapi juga bermanfaat untuk lingkungan dan
kepuasan diri individu. Seperti para seniman, ilmuan, dll.
·
Kreativitaslah yang memungkinkan
manusia meningkatkan kualitas hidupnya.
1.1.
Pengertian Kreativitas 4P (Pribadi, Proses,
Pendorong, Produk).
Kreativitas
adalah:
a.
Kreativitas merupakan
suatu proses menghasilkan sesuatu yang baru atau suatu bidang kajian yang
kompleks dan menimbulkan berbagai perbedaan dari beberapa pandangan.
b.
Kreativitas adalah
kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan
maupun karya nyata, baik dalam bentuk ciri-ciri aptitude maupun non-aptitude,
baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang
semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
c.
Kreativitas (Creativity) dalam kamus Psikologi
merupakan kemampuan menghasilkan bentuk baru dalam seni, atau dalam permesinan,
atau dalam memecahkan masalah-masalah dengan metode-metode baru.
Definisi
kreativitas tergantung pada segi penekanannya, kreativitas dapat di definisikan
ke dalam empat jenis dimensi sebagai Four
P’s Creativity, yaitu dimensi 4P (Pribadi, Proses, Pendorong, Produk)
sebagai berikut:
a.
Pribadi (Person)
Definisi
kreativitas ini memfokuskan pada individual, bagaimana dapat dikatakan sebagai
bakat, kreatif, kemampuan, serta interaksi yang unik dengan lingkungan.
Menurut Guilford
(2001), kreativitas merupakan kemampuan yang
ada dalam diri sendiri yang erat hubungan nya dengan bakat seseorang.
Menurut Roger
(dalam Afifa, 2007), faktor pribadi yang
kreatif adalah yang mampu mengendalikan keterbukaan dan kemampuan secara
spontan dengan elemen-elemen dan konsep-konsep sesuai dengan lokus pribadinya.
Menurut Huelbeck
(1945), tindakan kreatif muncul dari keunikan
keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkuan nya. “Creative person is an imposing of one’s own
whole personality on the environment in an unique and characteristic way.”
b.
Proses (Process)
Definisi
kreativitas ini memfokuskan pada suatu proses, yang dapat diartikan sebagaimana
seseorang berpikir serta memunculkan ide-ide unik yang kreatif. Hal ini
berkaitan dengan kemampuan individual dalam memecahkan permasalahan.
Menurut Torrance
(1998), kreativitas adalah proses merasakan,
mengamati, serta membuat dugaan atas kekurangan dalam masalah yang dapat
dinilai dan diuji melalui hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan
akhirnya dapat disajikan hasilnya.
Menurut Munandar
(1977) dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001,
kreativitas adalah sebuah proses atau kemampuan yang mencerminkan kelancaran,
keluwesan (fleksibilitas), dan orisinilitas dalam berpikir (mengembangkan,
memperkaya, memperinci) suatu gagasan.
Menurut Wallas
(1976) dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001,
tahap persiapan adalah tahap pengumpulan informasi atau data sebagai bahan
untuk memecahkan masalah.
Dalam Kamus Lengkap
Psikologi, Proses adalah:
1.
Sebarang perubahan
dalam satu objek atau organisme, khususnya satu perubahan tingkah lakuatau
perubahan psikologis.
2.
Cara berlangsungnya
satu perubahan dalam satu organisme, atau cara terjadinya suatu reaksi.
3.
(Titchener) satu perasaan atau penghayatan, atau isi kesadaran
lainnya tanpa referensi/kaitan dengan suasana, keadaan, atau maknanya.
4.
Satu proyeksi atau
pembesaran berasal dari suatu organ atau sel.
c.
Pendorong (Press)
Definisi
krativitas ini memfokuskan pada suatu dorongan, dorongan internal (diri
sendiri) serta eksternal (lingkungan). Faktor itu dapat berupa hakikat,
keinginan, motivasi, imajinasi dan fantasi untuk menciptakan pribadi yang
kreatif.
Menurut Simpson
(1982) dalam S.C.U. Munandar 1999, merujuk pada
aspek pendorong internal dengan rumusan nya sebagai berikut; “The intiative that one manifests by his
power to break away from the usual sequence of thought.”
Dalam Kamus
Lengkap Psikologi, Press adalah (Murray) satu objek lingkungan atau satu
kejadian yang mengandung arti bagi seseorang.
d.
Produk (Product)
Definisi
produk kreativitas menekankan bahwa apa yang dihasilkan dari proses kreativitas
adalah sesuatu yang baru, orisinil, dan bermakna.
Menurut
Munandar, 2002, Mengenali bakat, ciri
pribadi, mendorong dengan motivasi, menyediakan waktu dan sarana prasarana,
serta mempertunjukkan hasil karya guna menggugah minat untuk berkreasi akan
membuat individu terpacu untuk kreatif.
Menurut
(Munandar dalam Afifa, 2007), menyatakan
bahwa suatu karya cipta pada hakikatnya tidaklah baru sama sekali tetapi
merupakan pengembangan atau kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau
unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.
Menurut
(Stein dalam Basuki, 2010), menyatakan
bahwa suatu produk baru dapat disebut karya kreatif jika mendapatkan pengakuan
(penghargaan) oleh masyarakat pada waktu tertentu.
1.2.
Pengertian Operasional dalam Kreativitas
a.
Kreativitas merupakan
kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan
originalitas dalam berfikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi
(mengembangkan, memperkaya, memperinci suatu gagasan (Munandar dalam Basuki,
2010).
b.
Definisi operasional
menurut Koentjaraningrat merupakan batu ujian terakhir apakah masalah
dapat diselidiki atau tidak. Sehingga hal tersebut dapat menjadi sebuah
demonstrasi dari suatu proses – seperti sebuah variabel, istilah atau objek –
dalam hal proses tertentu atau serangkaian tes validasi yang digunakan untuk
menentukan kehadiran dan kuantitas.
1.3.
Definisi Kreativitas Menurut Clark
a.
Menurut Clark Moustakis
(1967), ahli psikologi humanistik menyatakan bahwa kreativitas adalah
pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam
bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan
orang lain.
b.
Clark berdasarkan hasil
berbagai penelitian tentang spesialisasi belahan otak, mengemukakan : “Kreativitas
merupakan ekspresi tertinggi keterbakatan dan sifatnya terintegrasikan, yaitu
sintesa dari semua fungsi dasar manusia yaitu : berfikir, merasa, menginderakan
dan intuisi (basic function of thingking, feelings, sensing and intuiting)”
(Jung 1961, Clark 1986).
2.
TEORI-TEORI
MENGENAI KREATIVITAS
2.1.
Penjelasan teori-teori yang melandasi pengembangan kretivitas yang meliputi;
a.
Teori Psikoanalisis
Pribadi
kreatif dipandang sebagai seorang yang pernah mengalami traumatis, yang
dihadapi dengan memunculkan gagasan-gagasan yang disadari dan tidak disadari
bercampur menjadi pemecahan inovatif dari trauma.
Teori
ini terdiri dari:
1)
Teori Freud
Menjelaskan proses kreatif dari mekanisme pertahanan (defence mechanism).
Freud percaya bahwa meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan
menghambat tindakan kreatif, mekanisme
sublimasi justru merupakan penyebab utama kreativitas karena kebutuhan
seksual tidak dapat dipenuhi, maka terjadi sublimasi dan merupakan awal imajinasi.
Macam mekanisme pertahanan:
·
Represi
·
Regresi
·
Konpensasi
·
Proyeksi
·
Sublimasi
·
Pembentukan
reaksi
·
Rasionalisasi
·
Pemindahan
·
Identifikasi
·
Kompartementalisasi
·
Introjeksi
2)
Teori
Ernst Kris
Erns Kris (1900-1957) menekankan bahwa mekanisme
pertahanan regresi seiring memunculkan tindakan kreatif.
Orang
yang kreatif
menurut teori ini adalah mereka yang paling mampu “memanggil” bahan dari alam
pikiran tidak sadar.
Seorang yang kreatif tidak mengalami hambatan untuk bisa “seperti anak” dalam
pemikirannya. Mereka dapat mempertahankan “sikap bermain” mengenai masalah-masalah
serius dalam kehidupannya.
Dengan demikian, mereka mampu malihat masalah-masalah dengan cara yang
segar dan inovatif, mereka melakukan regresi demi bertahannya ego (Regression in The Survive of The Ego).
3)
Teori Carl Jung
Carl
Jung (1875-1967) percaya bahwa alam ketidaksadaran (ketidaksadaran kolektif)
memainkan peranan yang amat penting dalam pemunculan kreativitas tingkat
tinggi. Dari ketidaksadaran kolektif ini timbil penemuan, teori, seni dan
karya-karya baru lainnya.
b.
Teori Humanistik
Teori Humanistik melihat kreativitas sebagai hasil dari
kesehatan psikologis tingkat tinggi.
Teori
Humanistik meliputi:
1)
Teori Abraham Maslow
Abraham
Maslow (1908-1970) berpendapat manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi
nyata sebagai kebutuhan.
Kebutuhan
tersebut adalah:
·
Kebutuhan
fisik/biologis
·
Kebutuhan akan rasa
aman
·
Kebutuhan akan rasa
dimiliki (sense of belonging) dan
cinta
·
Kebutuhan
akan penghagaan dan harga diri
·
Kebutuhan aktualisasi /
perwujudan diri
·
Kebutuhan estetik
Kebutuhan-kebutuhan tersebut mempunyai urutan hierarki.
Keempat Kebutuhan pertama disebut kebutuhan “deficiency”.
Kedua kebutuhan berikutnya (aktualisasi diri dan estetik atau
transendentasi) disebut kebutuhan “being”.
Proses perwujudan diri erat kaitannya
dengan kreativitas.
Bila bebas dari neurosis, orang yang
mewujudkan dirinya mampu memusatkan dirinya pada yang hakiki.
2)
Teori Rogers
Carl Rogers (1902-1987) tiga kondisi internal dari
pribadi yang kreatif, yaitu:
·
Keterbukaan terhadap
pengalaman.
·
Kemampuan untuk menilai
situasi patokan pribadi seseorang (internal
locus of evaluation).
·
Kemampuan
untuk bereksperimen, untuk “bermain” dengan konsep-konsep.
”Apabila seseorang memiliki ketiga ciri ini
maka kesehatan psikologis sangat baik. Orang tersebut diatas akan berfungsi
sepenuhnya menghasilkan karya-karya kreatif, dan hidup secara kreatif. Ketiga
cirri atau kondisi tersebut uga merupakan dorongan dari dalam (internal press)
untuk kreasi.”
c.
Teori Cziksentmihalyi
1)
Ciri pertama yang
memudahkan tumbuhnya kreativitas adalah Predisposisi
genetis (genetic predispotition).
Contoh seorang yang system sensorisnya peka terhadap warna lebih mudah menjadi
pelukis, peka terhadap nada lebih mudah menjadi pemusik.
2)
Minat
pada usia dini pada ranah tertentu. Minat menyebabkan seseorang terlibat secara mendalam
terhadap ranah tertentu, sehingga mencapai kemahiran dan keunggulan
kreativitas.
3)
Akses terhadap suatu
bidang.
Adanya sarana
dan prasarana serta adanya pembina/mentor dalam bidang yang diminati sangat membantu pengembangan bakat.
4)
Access
to a field. Kemampuan berkomunikasi dan
berinteraksi dengan teman sejawat + tokoh-tokoh penting dalam bidang yang
digeluti, memperoleh informasi yang terakhir, mendapatkan kesempatan bekerja sama
dengan pakar-pakar dalam b idang yang diminati sangat penting untuk mendapatkan
pengakuan + penghargaan dari orang-orang penting.
5)
Orang-orang kreatif
ditandai adanya kemampuan mereka yang luar biasa untuk menyesuaikan diri
terhadap hampir setiap situasi dan untuk melakukan apa yang perlu untuk
mencapau tujuannya.
Ciri-ciri Kepribadian Kreatif menurut
Csikszentmihalyi:
Csikszentmihalyi,
mengemukakan 9 pasang ciri-ciri kepribadian kreatif yang seakan-akan paradoksal
tetapi saling terpadu secara dialektis.
1)
Pribadi kreatif
mempunyai kekuatan energi fisik yang memungkinkan mereka dapat bekerja
berjam-jam dengan konsentrasi penuh, tetapi mereka juga bisa tenang dan rileks,
tergantung situasinya.
2)
Pribadi kretaif cerdas
dan cerdik tetapi pada saat yang sama mereka juga naïf. Mereka nampak memilliki
kebijaksanaan (wisdom) tetapi
kelihatan seperti anak-anak (child like).
Insight
mendalam nampak bersamaan dalam ketidakmatangan emosional dan mental. Mampu
berfikir konvergen sekaligus divergen.
3)
Ciri paradoksal ketiga
berkaitan dengan kombinasi sikap bermain dan disiplin.
4)
Pribadi kreatif dapat
berselang-seling antara imajinasi dan fantasi, namun tetap bertumpu pada
realitas. Keduanya diperlukan untuk dapat melepaskan diri dari kekinian tanpa
kehilangan sentuhan masa lalu.
5)
Pribadi kreatif
menunjukkan kecenderungan baik introversi maupun ekstroversi.
6)
Orang
kreatif dapat bersikap rendah diri dan bangga akan karyanya pada saat yang sama.
7)
Pribadi
kreatif menunjukkan kecenderungan androgini psikologis, yaitu mereka dapat
melepaskan diri dari stereotip gender (maskulin-feminin).
8)
Orang
kreatif cenderung mandiri bahkan suka menentang (passionate) bila menyangkut karya mereka, tetapi juga sangat
obyektif dalam penilaian karya mereka.
9)
Sikap
keterbukaan dan sensitivitas orang kreatif sering menderita, jika mendapat
banyak kritik dan serangan, tetapi pada saat yang sama ia merasa gembira yang
luar biasa.
Sumber:
Kamus
Lengkap Psikologi J.P. Chaplin Penerjemah: Dr. Kartini Kartono

Tidak ada komentar:
Posting Komentar